Minggu, 28 November 2010

BIOGRAFI PENGUSAHA MUDA

"NAOMI SUSAN"


NAOMI SUSAN
August 12, 2008 by husyap


Pengusaha yang satu ini baru berusia 33 tahun. Dia cerdas dan cantik. Orang mengenalnya dengan panggilan: Naomi Susan. Bos di Grup Ovis tersebut punya garapan bisnis yang beragam. Tapi, dia mengaku bingung soal jumlah asetnya. “Saya bingung kalau ditanya soal aset atau kekayaan yang sudah saya miliki. Berputar sih, jadi susah menghitungnya,” ujarnya lantas tertawa.


Rambut panjangnya yang dicat dengan warna keemasan dibiarkan tergerai. Mengenakan blazer krem, penampilan Naomi tampak pas dipadu celana panjang warna senada. Seuntai kalung indah bermata huruf NS (singkatan dari namanya) mengitari lehernya. “Terima kasih,” ujarnya saat dipuji Jawa Pos bahwa penampilannya begitu sempurna.


Lisptik merah dioleskan tipis di bibir mungilnya. Make-up-nya cukup natural. Meski demikian, dia mengaku berdandan dulu di salon sebelum menemui Jawa Pos. “Makanya aku sedikit terlambat,” tuturnya. Naomi lantas memesan seporsi pisang goreng keju dan lumpia sebagai teman berbincang.


Naomi adalah pemegang rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai pembeli pertama notebook berlapis emas dan bertakhtakan berlian. Dia membeli komputer jinjing itu seharga Rp 100 juta. Perempuan kelahiran 15 Januari 1975 itu kini menakhodai sejumlah perusahaan yang berkibar di bawah Grup Ovis. Mulai Ovis Utama, Ovis International, Ovis Bursa Bisnis, Ovis Direct Connection, Ovis Pro-interactive. Ovis Sendnsavem, dan OvisSms. Naomi juga tercatat sebagai CEO di Naomi Susan (NS) Group. Di NS Group itu, ada perusahaan-perusahaan macam Natural Salon, Nice Shot Studio, iNSpired Indonesia, Creative Solutions, dan Institute Optopreneur Representative Indonesia. Gurita bisnis membentang dari kafe, kartu diskon, hingga salon.


Dari Ovis International saja, dia pernah menyebut mengantongi keuntungan Rp 2 miliar per bulan. Ada 200 perusahaan lebih yang menjadi kliennya. Tapi, dia selalu mengelak ketika diminta menyebutkan jumlah kekayaannya. “Berapa ya, waduh bingung, Mas,” katanya.


Namun, dia meminta orang tak memandang dirinya dari luar saja. “Jangan dilihat, sekarang Naomi itu hidup enak, mau ngapaian aja bisa. Tapi, lihat prosesnya,” ujarnya dengan mimik serius.


Dia menekankan bahwa hasil memuaskan itu butuh proses. Butuh kerja keras. Kerap kali pil pahit justru harus ditelan jika ingin sukses berbisnis dan mengumpulkan pundi-pundi kekayaan. “Jika saya sudah sampai seperti saat ini, tentu saya bersyukur. Tapi, ingat, ini bukan sesuatu yang tiba-tiba,” ujarnya.


Naomi adalah prototipe pekerja keras. Latar belakang keluarganya sederhana. Dia menyaksikan sendiri ketika sang ibu harus berpisah dengan ayahnya. “Kerja keras Mama membimbing kami, menyekolahkan anak-anaknya membuat saya tahu apa itu arti perjuangan,” ceritanya. “Saya terbiasa mandiri. Terbiasa menerima hal-hal yang pahit.”


Dia mengenang, dulu ketika duduk di bangku SMA, sudah membantu tantenya berbisnis jual-beli tanah. “Saat itulah saya bisa mencari uang sendiri,” kenangnya. “Rasanya bangga bisa cari uang sendiri,” lanjut penggemar sea food itu. Sesekali Naomi menata rambut panjangnya.


Sepulang dari AS pada 1995, pascakuliah di University of Portland, Oregon, dia memulai karir sebagai manajer pemasaran di Indomarble Machinery. Di sana hanya setahun. Dia kemudian berlabuh menjadi account executive di sebuah perusahaan periklanan. Namun, itu pun hanya setahun.


Dia kemudian memutuskan mencoba menginvestasikan uangnya ke pasar modal. Itulah kali pertama bagi Naomi berbisnis dengan uang sendiri. Ketika membantu sang tante jual-beli tanah semasa SMA, dia lebih berperan menjadi semacam asisten. “Pertama kali mulai mencoba memutar uang pribadi, saya justru menghadapi hal yang tidak mengenakkan,” cerita penggemar warna merah itu.


Saat itu dia memutuskan menginvestasikan tabungan dengan membeli saham di lantai bursa. Dia mengaku kalah banyak karena saham yang dibeli jeblok. “Saat itu saya mulai berpikir nggak mau lagi bisnis pakai uang sendiri. Kalau nggak berhasil, bisa hancur lebur,” ceritanya. Dia berpikir, lebih enak bekerja menjadi karyawan di perusahaan orang lain. “Penerimaan stabil, dapat gaji setiap bulan. Lebih aman,” ujarnya.


Dia hampir frustrasi. Naomi pun ingin menutup rasa sesalnya dengan melanjutkan kuliah ke Australia. Namun, di antara kebimbangan itu, Naomi yang masih trauma berwiraswasta memutuskan ingin menjadi karyawan swasta. Surat lamaran pun dilayangkan ke PT Ovis Utama, perusahaan yang kelak dia nakhodai dan membawa namanya diperhitungkan sebagai miliarder muda. Ovis, kala itu, adalah perusahaan jaringan diskon. Bidang garapannya masih di jaringan diskon restoran. “Saat itu (lamaran) saya sempat ditolak, tapi kemudian dipanggil lagi,” katanya. Sejak saat itu, Naomi yang masih betah melajang ini berkarir sebagai staf public relation di Ovis.


Tak berselang lama, Naomi ditawari membeli saham di perusahaan tempat dia bekerja. Itu terjadi kala memegang franchise dari Card Connection International. “Aku semula ragu, takut menggunakan uang pribadi dalam berbisnis,” katanya. Namun, akhirnya dia bertekad mengambil tantangan tersebut. Saat itu Ovis memegang lisensi dari Card Connection International. Dia pun melejit lewat anak usaha Ovis, PT Ovis International yang bergerak di bidang kartu diskon card connection.


Naomi yang mengaku tak punya tempat liburan favorit itu kemudian mampu melewati fase krisis 1997-1998 dengan manis. Dia, berbekal keberanian memutuskan hal-hal krusial dalam waktu yang singkat, mampu membawa perusahaannya melebar, merambah ke bidang restoran, kafe, jual beli properti, sampai pesawat carter. Bahkan, kini dia pun merambah ke bisnis waralaba salon.


Saya Ingin Menjual Kegagalan


Naomi Susan termasuk orang yang tidak pelit membagikan ilmu. Dia tak segan-segan membagikan tip berbisnis kepada kolega-koleganya. “Dengan membagi-bagikan ilmu seperti itu, aku tidak takut mendapat pesaing baru. Justru kemampuan kita akan banyak terasah,” terang sosok yang mengidolakan Bob Sadino itu. “Yang penting bagi aku adalah bagaimana memenangkan persahabatan,” lanjutnya.


Naomi lantas bercerita soal struktur karyawan di perusahaannya. Menurut dia, setiap perusahaan harus punya kuda jinak dan kuda liar. “Tipe kuda jinak akan melindungi perusahaan, sementara kuda liar untuk marketing perusahaan,” jelasnya. Kuda liar itulah, kata dia, yang lebih banyak memberikan manfaat bagi bisnisnya.


Meski menakhodai banyak perusahaan, Naomi bukanlah sosok yang dikendalikan waktu. Sebagai bos, dia bebas ke mana saja. “Saya nggak punya waktu liburan yang terencana. Kalau mau liburan, ya langsung libur,” ujarnya. Ke mana tempat favorit berlibur? “Nggak ada. Saya bukan orang yang senang lihat gunung, senang lihat pantai. Pokoknya, pengin ke mana gitu, saya langsung ngajak keluarga berangkat,” terangnya.


Naomi kerap menggunakan cara-cara “mendadak” semacam itu untuk berlibur. “Enak rasanya bareng satu keluarga berlibur, biasanya kita carter pesawat,” tuturnya.


Naomi kini tinggal di sebuah apartemen di kawasan Jakarta Barat. Sehari-hari, dia beraktivitas dengan BMW seri 3 berwarna merah yang telah dianggapnya sebagai kekasih. “Kalau naik mobil itu, saya seperti berada di rumah sendiri. Pokoknya, mobil itu lebih dari sekadar teman,” katanya.


Naomi kini mengaku benar-benar ingin menikmati hidup dengan lebih rileks, tak ingin terlalu diburu obsesi dan ambisi. Dia ingin menerapkan filosofi air; hadir dan mengalir. “Saya sebenarnya ditawari mengerjakan banyak proyek bisnis, tapi saya nggak mau aji mumpung. Harus ada yang ngerem saat kita digoda banyak obsesi,” ujarnya.


Prinsip Naomi adalah bagaimana mempertahankan kualitas dengan menolak penawaran proyek yang dalam jangka pendek jelas tak bisa dikerjakan. “Artinya, bisa mengukur diri,” imbuhnya. Karena itu, dia kini mengaku hanya fokus pada empat perusahaan. Lini perusahaan lainnya diserahkan kepada karyawan-karyawannya.


Dengan alasan itulah, banyak tawaran bisnis baru yang dikesampingkan. “Aku cuma ingin jadi pribadi yang seimbang,” tuturnya.


Maksudnya, lanjut dia, kehidupan ini harus diartikan secara seimbang, tidak melulu hanya untuk mencari pundi-pundi kekayaan. “Cobaan kan ada dua, saat susah dan senang. Nah, aku sekarang diberi cobaan dengan sesuatu yang enak. Aku harus ingat, aku juga harus mengutamakan orang-orang yang kusayangi,” terangnya.


Kini, Naomi juga sedang getol menularkan “filsafat kegagalan”. Jika orang berpikir be positive, dia malah mengusung tema be negative. Dia menulis buku berjudul Be Negative. “Saya ingin menjual kegagalan. Maksudnya, jangan takut gagal. Justru dari kegagalan itulah, kita harus belajar untuk menuju kesuksesan,” tuturnya.


Selain itu, dia banyak mengurusi pemberian beasiswa untuk lulusan-lulusan SMA di Indonesia. Mereka diberi beasiswa sekolah di Institute Otopreneur, Malaysia. “Aku rutin menjenguk anak-anak di Kuala Lumpur,” terangnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar